Ads 468x60px

Monday, February 11, 2013

Mendamaikan Agama dan Sains: Part 3


Seleksi alam yang dimaksud Darwin dalam buku The Origins of Species bekerja sebagai kemauan alam, dalam hal ini dia tidak mengatakan  adanya campur tangan Tuhan dan juga dia tidak menyangkal adanya campur tangan Tuhan, dia hanya mengatakan adanya mekanisme alam yang perlu dijelaskan. Inilah “hutang” Darwin yang tak sempat dia jelaskan atau memang Darwin tidak mampu merangkai jawabannya.

Teori Darwin yang awalnya dianggap bisa menjelaskan mekanisme tersebut ternyata gagal, dia meninggal dunia sebelum menjelaskan secara utuh apa mekanisme yang dia maksudkan. Darwin memang berhasil menunjukkan bukti-bukti “produk” evolusi, namun dia luput menjelaskan secara elegan proses evolusi apa yang terjadi dan bagaimana bukti-bukti itu berevolusi. Sebagian kalangan mungkin dapat maklum karena Darwin sebenarnya tak pernah mengeyam pendidikan formal Biologi, dia hanyalah seorang Pastor yang tertarik kepada alam dan makhluk hidup pengisinya, tetapi teorinya sudah terlanjur mengguncang zaman.


Dalam perkembangan teori evolusi,  ilmu Genetika dengan Hukum Mendel yang berbicara tentang pewarisan sifat pada  awalnya berusaha menggugurkan klaim mekanisme evolusi Darwin. Tapi  pada akhirnya Mendel menggunakan teori Darwin sebagai pijakan untuk mengaktualisasi teori evolusi hingga menghasilkan teori Sintesis, sebuah teori evolusi kontemporer. Penemuan dan perkembangan mikroskop juga membuktikan bahwa organisme adalah bentuk yang sangat rumit hingga pada tingkat selnya. Terbentuknya struktur yang rumit tersebut tidak bisa dijelaskan dengan teori Darwin. Namun sekali lagi fakta tersebut tidak sepenuhnya menjadi bukti bahwa teori evolusi bertentangan dengan ajaran agama.


Andaikan teks-teks kitab suci tidak selalu diartikan secara harafiah, keyakinan agama tentang penciptaan seharusnya tidak akan menimbulkan pertentangan tajam mengenai teori asal usul keanekaragaman makhluk hidup. Dan teori evolusi sebagai sebuah ilmu pengetahuan seharusnya tidak dianggap sebagai simbol penentangan terhadap agama atau sumber bencana.

Kepercayaan tentang penciptaan oleh Tuhan mungkin sebaiknya disertai pemahaman bahwa selama penciptaan Tuhan juga berkuasa untuk memberikan dinamika dan memunculkan proses perkembangan menuju bentuk yang lebih rumit hingga menghasilkan jenis yang beragam seperti saat ini. Tuhan tidak terkungkung dalam hukum-hukum alam yang Dia ciptakan sendiri.

Tak perlu juga menyalahkan “sang waktu” dan berandai-andai:  kalau seandainya Darwin diberi kesempatan menjelaskan maksud tulisannya mungkin semuanya akan lebih jelas, belum tentu juga. Bisa jadi evolusi adalah bahasa yang digunakan oleh Darwin untuk menjelaskan sebuah fenomena. Sementara para teologian memiliki bahasa lain untuk menjelaskan yang sama. Tapi di luar itu semua harus diakui kalau teori Darwin membuka jalan bagi ilmu pengetahuan modern untuk menjelaskan asul-usul kehidupan. Teori Darwin memang tidak dapat  menjelaskan mekanisme tentang terbentuknya keanekaragaman makhluk. Namun bukti adanya evolusi sukar untuk diingkari.

Fakta bahwa evolusi benar-benar terjadi sukar untuk ditolak. Beberapa bukti dan argumen dalam teori Darwin yang tidak dapat menjelaskan dengan tepat dan tuntas asal-usul kehidupan bukanlah sebuah tanda bahwa evolusi tidak pernah terjadi. Bukti fosil meskipun belum lengkap tetap diterima sebagai kenyataan bahwa pernah ada kehidupan masa lampau sebelum kehidupan modern saat ini. Di sisi lain pemegang teguh Darwinisme juga tak bisa mengingkari kenyataan bahwa teori Darwin mempunyai banyak lubang yang perlu ditambal. Namun hal itu justru membuka lahan pemikiran baru untuk terus menganalisis perspektif dan mengaktualisasi teori evolusi karena setuju atau tidak setuju hingga saat ini teori evolusi masih menjadi satu-satunya teori terbaik yang dapat menjelaskan perkembangan “sebagian” kehidupan masa lampau yang mengantarkan kita pada “dunia masa kini”.

No comments: