Ads 468x60px

Thursday, May 10, 2012

Kisah Kerajaan Buta dan Mahkluk Aneh


Hatta, tersebutlah suatu kisah, sekali waktu di negeri antar berantah ada satu kerajaan di lembah gunung terpencil yang hanya dihuni oleh orang-orang buta. Menurut satu cerita beredar luas dan diyakini oleh sebagian besar orang, penduduk pertama lembah yang bernama Mada dan Hawa. Menurut cerita kuno yang diturunkan mulut ke mulut, Mada dan Hawa telah melakukan sesuatu setiap buruk. Mereka memakan sepotong buah larangan yang seyogyanya hanya dapat dinikmati para dewata. Akibatnya, mereka kehilangan kemampuan mereka untuk melihat, dan semua keturunan mereka turun sampai hari ini menjadi buta.


Dalam kebutaan itu, mereka berusaha untuk mengetahui apa yang ada di sekeliling mereka, apa yang sedang terjadi, apa yang dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi. Demikianlah selama bertahun-tahun lamanya, penduduk kerajaan itu saling membagi informasi tentang apa saja yang ada disekitar mereka. Mereka bersama-sama mendiskusikan asal mula mereka, bagaimana sang dewata menciptakan lembah di mana mereka tinggal, bagaimama sang dewata menciptakan nenek moyang mereka, dan lain-lain. Setiap pendapat yang diberikan selalu ada yang membantah dan selalu ada yang tidak sependapat. Suara bulat untuk setuju sangat jarang ditemukan. Tidak jarang perdebatan yang muncul harus diakhiri dengan duel fisik. Hal ini sangat dimaklumi sebab keterbatasan indra penglihatan, mereka tidak dapat memverifikasi mana pendapat yang benar dan mana yang salah, selain itu pengetahuan mereka tentang asal muasal mereka hanya mengandalkan ingatan dan kisah yang diturunkan dari mulut ke mulut, dari seorang bapak ke anak dan kemudian diteruskan ke cucu, demikian seterusnya. Demikian lah penduduk kerajaan itu berusaha mempelajari dan memahami dunia dimana mereka tinggal.

Suatu ketika, kerajaan itu digemparkan dengan "makhluk aneh," sebagian orang diyakini bahwa objek extraterrestrial itu terbang ke lembah itu dan kemudian terdampar. Mereka menyakini mempelajari unidentified flying object itu akan memberikan informasi penting. Namun, karena semua orang buta, pertanyaan-pertanyaan seperti apa "makhluk aneh" itu sebenarnya dan bagaimana bentuknya menjadi bahan perdebatan yang sengit dan panas.

Penduduk kerajaan itu itu sangat antusias ingin "melihat" mahluk tersebut, dan beberapa dari mereka berlari untuk mendekatinya. Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk makluk itu, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, dan berpikir telah mengetahui benda apa itu. Orang yang tangannya menyentuh telinga makluk itu ditanya tentang bentuknya. Jawabnya, "Benda itu lebar, kasar, besar, dan luas, seperti babi raksasa." Dan orang yang meraba belalainya berkata, "Saya tahu keadaan sebenarnya. makhluk itu bagai pipa lurus dan kosong, dahsyat dan suka menghancurkan." Orang yang menyentuh kakinya berkata, "makluk  itu perkasa kokoh, bagaikan tiang atau pohon." Masing-masing telah meraba satu bagian tubuh mahluk aneh itu .

Ketenteraman lembah terpecah, tiap-tiap orang yang memegang bagian tubuh yang berbeda membentuk kelompok sebab merasa bahwa pemahaman mereka tentang mahluk itu adalah yang paling benar. Tiap kelompok mengembangkan argumetasi mengapa makhluk aneh itu harus seperti yang mereka deskripsikan. Kelompok yang percaya bahwa mahluk itu seperti pohon diyakini oleh kelompok para imam. Para imam ini ngotot bahwa pemahaman mereka adalah satu-satunya yang benar karena, kata mereka, mereka mempunyai daya raba yang lebih baik dari anggota kelompok lain. Mereka yakin bahwa mereka memahami dengan jelas sifat sebenarnya dari makluk misterius itu dan semua orang pada kelompok lain benar-benar keliru. Beberapa tokoh para imam bahkan berpendapat bahwa orang yang percaya bahwa mahluk itu seperti babi raksasa dan pipa kosong  harus diusir dari lembah karena mereka tidak percaya pada orotitas mereka sebagai imam untuk mendeskripsikan tentang mahluk itu. " Pada orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dituduh merusak kaum muda lembah, penyebar ajaran palsu, dan dianggap bidaah.

Terjadilah bahwa beberapa warga kerajaan buta itu  berhasil bepergian ke luar lembah mereka dan berkesempatan dirawat rumah sakit khusus untuk mengobati kebutaan mereka. Mereka perlahan-lahan pulih  dan mulai mampu melihat beberapa gambar tetapi masih kabur.  Mereka mengatakan bahwa manusia tampak seperti bayangan pohon-pohon yang berjalan-jalan. Namun, mereka semua berpikir bahwa mereka telah memperoleh penglihatan yang cukup untuk dapat melihat bentuk umum dari objek yang berbeda. Ketika mereka mengunjungi kebun binatang yang terletak di dekat rumah sakit tempat mereka dirawat, mereka bertanya apa makluk disebut di lembah mereka dengan nama makhluk aneh dan mereka diberitahu bahwa makluk itu bernama "gajah."

Setelah kembali ke kembah Kerajaan Buta, hal pertama yang dilakukan oleh orang yang medapatkan kesembuhan dari kebutaan itu adalah membagikan informasi bahwa mahluk aneh yang selama ini mereka perdebatkan adalah gajah.  Informasi ini segera disampaikan kepada warga lain. Mereka menjelaskan bahwa semua karakteristik yang dijelaskan oleh kelompok yang berbeda adalah benar. Misalnya, gajah memiliki tali (di luar lembah itu disebut ekor), itu memiliki batang pohon besar (orang lain menyebutnya kaki), dan tubuh lunak berongga tetapi fleksibel yang disebut dengan belalai. Semua interpretasi ternyata benar. Ternyata ada lebih dari satu jawaban yang benar atas pertanyaan bagaimana bentuk mahluk itu.

Sebagian besar warga lembah senang diberitahu tentang sifat sebenarnya dari makluk khusus itu. Namun, satu kelompok sangat terganggu dengan informasi ini. Siapa lagi kalau bukan imam-imam yang dianggap memiliki otoritas kebenaran. Mereka mengatakan bahwa mereka yang telah pulih pandangannyadi luar lembah telah tertipu. Mereka justru dituduh sebagai mata-mata yang akan menginfrasi ketenteraman dan kedamaian di lembah itu. Selanjutnya, siapa pun di Kerajaan Buta yang percaya  pada keterangan orang yang sudah pulih penglihatanta itu tertipu karena karena mereka tertipu maka mereka harus disinggirkan dari lembah tersebut.

Karena para Imam merasa bahwa merekalah yang berhak dan tahu tentang sifat sebenarnya dari gajah, mereka memutuskan untuk memanggil organisasi mereka untuk membentuk sebuah "lembaga." Tugas "lembaga" itu adalah mempertahankan pendapat dan keyakinan mereka bahwa makluk gajah hanya hanya memiliki kaki, sebab selama ini mereka beriman bahwa mahluk itu berbentuk seperti pohon. Para imam memutuskan mereka harus meyakinkan orang yang tinggal di lembah-lembah lain bahwa apa yang mereka sebut gajah ternyatahanya  memiliki tali saja (yaitu ekor). Selanjutnya mereka memutuskan bahwa kalau mahluk yang tidak memiliki ekor tidak dapat disebut gajah.

Sayangnya, rakyat Kerajaan Buta itu tidak dapat diyakinkan dengan keterangan seperti itu.

No comments: