Ads 468x60px

Friday, December 22, 2006

Ibu Kartini Terperangkap di Jalan Jenderal Sudirman



Salah satu kenangan yang saya ingat waktu saya masih muda adalah nongkrong sambil menantikan pacar turun dari kantornya di Gedung BNI 46 di wilayah jalan Sudirman. Saya memperhatikan beberapa karyawan wanita yang baru saja pulang kerja. Cukup banyak. Ach..... wanita dengan berbagai macam mode pakaian kerja hilir mudik masik dan keluar lift. Di dalam hati saya berkata: "Terima Kasih Ibu Kartini, tanpa engkau pemandangan Jenderal Sudirman akan begitu hambar, tanpa bunga-bunga merah, kuning, dan berbagai warna ceria pakaian wanita."

Menyeberang Jalan Sudirman.... ada sebuah mobil kijang berhenti di depan saya. yup omprengan.... Isinya cukup padat. Ada beberapa orang anak, perawat, pembantu rumah tangga, dan supir. Tak lama kemudian seorang ibu mendekat dan masuk ke dalam mobil. Di dalam hati saya berkata: "Oh ibu Kartini, tanpa sengaja engkau telah menceraikan anak-anak ini dari ibu mereka."

Ku harus mengakui bahwa nasib kaum wanita saat ini mengalami banyak kemajuan. Wanita tidak lagi bisa dianggap remeh oleh kaum adam. Wanita mempunyai potensi yang kadang jauh lebih besar dari potensi kaum pria. Kesempatan meniti karir semakin luas bagi kaum wanita. Akan tetapi bersamaan dengan itu pula, struktur keluarga dan pola pendidikan anakpun bergeser. Sekarang, orang tua tidak lagi menjadi pemeran utama usaha pendidikan anak.

Di dalam kesibukan orang tua meniti karir, sekolah sudah hadir untuk menggantikan peran mereka. Semakin banyak sekolah yang menambah waktu belajar murid di sekolah, sehingga orang tua tidak perlu bingung kemana mereka harus menitipkan anak. Yayasan penyalur baby-sitter semakin banyak. Taraf hidup para pembantu mulai meningkat. Kaum wanita berekonomi rendah mendapatkan kesempatan kerja lebih baik sebagai baby-sitter. Dengan keberadaan baby sitter, kekhawatiran para orang tua semakin dapat teratasi ... asal ada uang!!! Tapi sekali lagi ... kehadiran sekolah dan yayasan penyalur baby-sitter yang pada mulanya untuk membantu orang tua, kini membuat jurang perceraian anak dan orang tua semakin besar.

Duh Ibu Kartini, tanpa engkau pemandangan Jenderal Sudirman akan begitu hambar ! Tapi tanpa sengaja engkau telah menceraikan anak-anak ini dari ibu mereka.

Tuesday, November 14, 2006

Sayap Malaikat yang Patah

Pastor Ted Haggard, Presiden Asosiasi Penginjilan Nasional yang mempunyai 30 juta pengikut Kristian dengan 14,000 geraja dibawahnya mengaku telah menipu pengikutnya dan telah melakukan sek yang tidak bermoral dalam pengakuannya pada 5 November 2006.Dalam pengakuannya, Haggard mempunyai kencan bulanan dengan seorang pelacur pria dalam kurun waktu tiga tahun. Ted Haggard seorang pemimpin gereja konservatif injili (evangelical) yang bersuara peling keras menentang perkawinan sejenis nyatanya terlibat kasus Gay.

Penuduhnya, Mike Jones, adalah massager gay cakep, atletis dan profesional escort. Mike menuduh bahwa Ted mengenalkan diri sebagai 'Art' (nama tengah Tedadalah Arthur), dan sudah menyewanya 3 tahun - rata2 sebulan sekali. Selain itu Ted juga beli narkoba lewat dia. Mike tadinya tidak menyadari siapa si Art ini sampai dia nonton dokumentari tentang agama dan melihat tampak si Art disitu. Mike jadi marah karena hipokrisi sang pastor yang terbuka anti gay.

Dalam sebuah surat yang dibacakan pada kebaktian Minggu di hadapan jemaat di Gereja New Life di Colorado Springs, Pendeta Haggard mengungkapkan "Saya bersalah dengan perbuatan seks amoral dan saya bertanggung jawab atas segala permasalahan tersebut. Saya memang seorang pembohong dan pecundang.... Ada satu sisi gelap dalam kehidupan saya yang mesti saya lawan. Untuk masa-masa tertentu saya menikmati kemenangan dalam kebebasan tersebut. Lantas hari demi hari kekotoran yang saya kira sudah hilang muncul kembali. Saya terus memikirkannya dan mengalami hasrat yang berlawanan dengan segala sesuatu yang saya yakini dan saya ajarkan." Dia mengaku mencintai istrinya. "Apa yang telah saya lakukan tidak pernah menjadi hal negatif dalam hubungan saya dengannya. Masalah ini tidak ada kaitannya dengan istri saya, kelima anak-anak saya atau siapa saja di antara kalian. Seratus persen itu semua ulah saya," tulisnya.

Istrinya Gayle juga menulis sepucuk surat kepada para wanita dalam jemaat gereja. "Saya tahu hati Anda hancur, begitu juga saya." Dia mengatakan masih mencintai suaminya.

Beberapa tahun yang lalu ada juga kasus yang tidak sama persis namun mirip-mirip. Yakni yang terjadi di NARTH suatu badan psikologi gurem yang didukung oleh gereja-gereja konservatif dan injili, dan mengkhususkan diri dalam penyembuhan homoseksual. NARTH sendiri aktif menentang homosexual dan menyatakan kasus gay adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Nyatanya anak dari presiden NARTH yaitu Richard Socarides adalah seorang gay, celakanya lagi Socarides adalah penasehat presiden Clinton dalam masalah gay.

Beberapa bulan yang lalu juga salah satu gereja Advent Indonesia di Southern California dikagetkan dengan adanya berita bahwa salah seorang pendeta senior telah jatuh dalam perzinahan. Secara pribadi saya tidak antusias untuk mengecek kebenaran berita ini, tetapi hingga saat saya menulis catatan ini, beliau belum kembali kepada posisinya sebagai gembala jemaat.

Dalam salah satu milis yang saya ikuti, ada anggota jemaat yang keberatan pada gembala jemaatnya sebab gembala jemaat tersebut sangat bangga menceritakan bahwa seorang narapidana (Lidya) kini sedang belajar pendalam Alkitab dari pendeta tersebut dan pendeta ini juga menceritakan kecantikan dari Lidya yang begitu aduhai. Dia juga menyatakan bahwa Lidya sangat dekat dengan dia sekarang ini, dan dia sangat bangga atas hubungannya dengan Lidya di penjara. Pendeta ini tidak puas memenangkan Lidya bagi Kristus tetapi juga menikmati tubuh Lidya yang begitu aduhai walau sekedar lewat tatapan mata saja. Tidak cukup menikmatinya dalam hati tetapi juga membagikannya pada anggota jemaatnya.

Berhadapan dengan manusia yang multidimensional dan kompleks, pendekatan doktrinal saja tidak memadai. Apalagi kalau yang bersangkutan dipaksa atau terpaksa mengabdi pada satu interpretasi Alkitab, teori psikologi, kebijakan politis atau doktrin. Kelihatannya kekristenan yang lebih empatilah yang mampu mendekati persoalan kemanusiaan dengan lebih baik.

Yang saya maksud dengan Kekristenan Empati adalah sebuah kekristenan yang melihat bahwa selalu dalam diri setiap orang ada nilai-nilai kebajikan yang pantas dihargai sepenuhnya, sekaligus bahwa setiap orang bergumul dan berjuang dengan keterbatasan dan kelemahannya akibat dosa. Kekristenan yang melihat martabat dasar setiap manusia, yang dianugerahkan Allah padanya, yang melampaui orientasi seksual. Kekristenan yang tidak melihat setiap persoalan sebagai masalah hitam-putih.

Thursday, September 21, 2006

Selimut Ketakutan di Balik Meja Perjamuan Suci

Saya baru baca artikel Newsweek ini :The New Naysayers .Bagus! Maksud ku bagus debatnya. Mengenai ateisme khususnya diskusi dengan tokoh sains yang mumpuni saat ini. Aku sendiri, nggak bisa ngasi tanggapan apa-apa. Cuma mau berterima kasih aja atas komentar terhadap tulisan "The New Naysayers" itu. Keren pisan euy!

Terhadap pertanyaan "If there is no God, WHY BE GOOD?" - respon Dawkins sangat menarik: "Do you really mean the only reason you try to be good is to gain God's approval and reward? That's not morality. That's just SUCKING UP!"

****

Minggu-minggu belakangan ini, pendekar-pendekar sakti di milis AI pada demonstrasi ilmu jingkang, totok, entah apalah pokoknya membuat aku yang keroco ini terkagum-kagum. Diskusi tentang Perjamuan Suci : pria dan perempuan berpasangan dalam pembasukan kaki, keikutsertaan anak-anak dalam perjamuan, anggurnya harus wine asli atau tidak, wealah pokoknya serulah....! Sesudah aku tutup layar komputerku, aku berpikir: Untuk apa ya... di diskusikan? Apa supaya tidak berdosa? Takut Tuhan marah kalau melakukan perjamuan suci tidak sesui dengan apa yang Tuhan mau? Oalah... pusing aku.

Otak kita sejak lahir telah diprogram agar kita selalu ingin menjadi yang "terkasih", yang "terbenar" yang "terbaik" pokoknya semua yang "ter--- lah". Sehingga agama, ideologi dan praktika religi yang kita anut sering menyebabkan kita menjadi lebih benar, dan pada gilirannya arogan. Lebih jauh lagi, pemrogaman yang kita terima menyebabkan kita cenderung memandang lewat kaca mata sempit kita, cenderung mempersonifikasikan Sang Pencipta,sehingga kita merasa Dia perlu dilindungi, Dia perlu dijaga agar tidak marah, perlu dipuji puja agar Dia senang, agar kita bisa dijadikan sebagai anak kesayangan-Nya.

Kembali ke artikel Newsweek di atas, kadang aku pikir, saya jadi orang baik karena : F E AR !!. Fear of being alone. Fear of rejection. Fear of not being love. Fear of being lost. Fear of sins. Fear of hell. Fear of God. Fear of being punished, fear of being kicked to the hell!!! Fear of all the things we don't know... Mungkin pendekar-pendekar sakti di milis IA ini debat:"We are being good, because we LOVE God!". Are you sure? Kalau Tuhan kagak ada masih mau jadi orang baek? atau Kalau Tuhan katakan "Sampeyan baek, 1/2 baik, atau tidak baek sama sekalian semua masuk Sorga? Apa tetap masih mau baek juga? Mirip-mirip syair lagu John Lenon: "Imagine there's no heaven, It's easy if you try, No hell below us, Above us only sky, ..... No religion too, ..." In simpler terms, imagine there's no God." Kalau ngana tetap jadi orang baek walau Tuhan kagak ada, pertanyaan selanjutnya apa yang memotivasi ngana supaya jadi orang baek?

Aku kagum sama orang-orang pinter yang berani mencari berbagai jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang memang jadi PR kita! Jadi kalok - misale- Kok Sammy udah bisa meyakinkan "jingkang, salto, siu-lo-im-sat-kang" tingkat kesembilan, jangan lupa member AI banyak yang masih baru belajar ngatur nafas aja, atau bahkan lebih banyak lagi yang baru mulai belajar lari-lari. Golongan yang belakangan ini lebih sering milih jadi sekadar "daun jatuh" yang mengalir ke mana arus air sungai mengalir... Sedang aku? Aku cuma ngalor-ngidul, mungutin sampah sesudah pesta "debat" selesai. Terhadap banyak pertanyaan yang muncul di kehidupan ini, jawabanku masih dan
masih saja - kebanyakan adalah: KAGAK TAU

Monggo, silakan teruskan diskusinya. Aku pengin selonjoran lagi sebelum mungutin sampah "pesta" yang berikut.

Saturday, September 16, 2006

Memahami Rahasia Ilahi


Ayah saya meninggal dunia tanggal 10 September yang lalu setelah mengalami Cerebrovascular Accident. Sebelum ayah meninggal dunia, saya dan istri berdoa agar dapat melihat ayah walau untuk yang terakhir kalinya. Tetapi Tuhan memiliki rencana lain. “Dimana Tuhan ketika saya berdoa untuk kesembuhan ayah? Bukankah dia berjanji akan memberi kalau diminta?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering kita tanyakan ketika mengalami malapetaka. Dimana Tuhan ketika gempa bumi dahsyat, tsunami, banjir besar, tanah longsor, bom dan terorisme, lumpur panas, dan busung lapar? David Hume, filsuf abad ke-18 pernah bertanya, "Adakah Allah bermaksud mencegah malapetaka tetapi tidak sanggup? Berarti Dia tidak Mahakuasa. Atau adakah Ia mampu, tetapi tidak mau? Itu berarti Allah tidak Mahakasih.”

Tentu saja jawaban-jawaban "mudah" sudah tersedia. Ini adalah hukuman. Ini adalah azab yang mesti dijalani manusia berdosa. Mungkin saja jawaban-jawaban itu ada benarnya. Tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa Allah menghukum orang-orang yang baik?

Di dalam teologi Kristen, ada suatu prinsip dimana Allah selalu diaggap baik Di dalam menghadapi malapetaka dan kejahatan, Allah tidak dapat dipersalahkan. Memang di dalam kebaktian-kebaktian penghiburan ketika orang mengalami malapetaka, demi tujuan pastoral, cara berpikir ini mungkin menolong. "Allah tentu mempunyai maksud baik," demikian selalu dikatakan. Boleh jadi juga orang merasa terhibur.

Pertanyaan-pertanyaan yang, kendati tidak secara verbal ditanyakan ini, sesungguhnya tertanam di dalam sanubari setiap orang. Pertanyaan ini menghujam kepada pertanyaan mengenai eksistensi Allah sendiri. Pertanyaan ini tidak sederhana jawabannya. Atau barangkali tidak pernah ada jawabannya yang logis.

Melihat kegagalan logika menjawab pertanyaan ini, Karl Rahner, seorang teolog Katolik menyimpulkan,“Kita mesti belajar untuk menerima hal-hal yang tidak terpahamkan sebagai bahagian dari tidak terpahamkannya Allah sendiri. Allah mengizinkan malapetaka dan kejahatan untuk ada di dalam dunia, yang alasannya hanya diketahui oleh Allah sendiri.”

CS Lewis yang pernah menanyakan pertanyaan eksistensi ini, justru baru "mampu" memberikan jawaban ketika mengalami sendiri penderitaan pahit dengan meninggalnya sang istri. Berdasarkan pengalaman itu, ia menulis satu buku berjudul A Grief Observed. Melalui buku itu ia mengatakan bahwa jawaban-jawaban, apalagi yang bersifat teoritis-akademis, tidak pernah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengenai keberadaan manusia dan posisi Allah di dalam konteks malapetaka.

“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." Ulangan 29:29

Kematian memang selalu jadi misteri. Selamat jalan Bapak ! Beristirahatlah dengan tenang sampai kita bertemu lagi.

Saturday, August 26, 2006

Perang Antar Dua Padepokan

Tersebutlah satu kisah tentang bratayudha di milis AI di negeri maya. Antara murid-murid dari kaki Gunung Burangrang dan murid-murid dari kaki Gunung Klabat. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu, apakah perang ini diilhami pertempuran yang baru-baru ini terjadi antara salah satu murid dari padepokan Adelaide di Aussie dengan murid dari padepokan Andrews dari negeri Paman Sam. Pertempuran tidak melukai kulit tapi yang kutakutkan ada luka yang lebih dalam di dada. Tapi sebelum harapanku untuk gencatan senjata terlaksana, ku ajaklah dirimu untuk sedikit "menikmati" pertempuran ini. Entah kenapa saya lebih menikmati peran menjadi penonton daripada pemain. Dan sebagai penonton teriakan saya akan lebih nyaring dan lebih kuat, dan juga lebih panas. Saya juga tidak bernaksud sebagai Semar yang memberi nasehat pada para Pandawa dan Kurawa, hanya pengen jadi penulis dan saksi perjalanan sang kala. Dengan harapan dan mudah-mudahan anak cucu saya dikemudian hari belajar dari coretan-coretan saya. Itu saja tidak lebih.

Awal ceritanya dimulai dengan autokritik murid dari Padepokan Gunung Burangrang pada almamaternya. Kekecewaannya atas kualitas adik-adik seperguruannya yang semakin menurun. Mungkin dulu dia mengingat kakak-kakak seperguruannya sudah khatam dalam ilmu jingkang, shilat, ilmu totok, jurus si kunyuk melempar buah, dan ilmu-ilmu mandraguna lainnya sebelum ditamatkan dari padepokan. Sekarang justru adik-adik seperguruannya babak belur ditonjokin anak-anak terminal yang kagak pernah asah taji. Terus doi juga protest tentang mahalnya uang pembayaran. Barangkali dulu bisa bayar pake ayam, jagung, atau singkong ; dan resi-resi pada waktu itu dengan senang hati menerimanya. Bahkan menurut catatan para pujangga resi-resi pada waktu itu sudi membiarkan murid-muridnya untuk membajak kebun dekat pondoknya demi murid-muridnya bisa menuntut ilmu lebih baik. Memang kecintaan seorang murid pada padepokannya membuatnya menyampaikan keluhan itu, demi harkat dan martabat serta kelangsungan nama besar padepokan dimana dia pernah diasuh.

Entah bagaimana ceritanya, berita ini sampai pada murid-murid Gunung Klabat. Maka terjadilah tertempuran yang sengit ini. Posting dilawan dengan posting, pesan diserang dengan pesan, tidak lupa dibumbui dengan mantra dari kitab suci, Lagu Sion dan kutipan dari Tante White. Tapi apa hendak dikata. Itulah konsekuensi kemajuan teknologi informasi. Kalau dulu guru-guru mereka mengajar mereka dengan menerbangkan lesung untuk menyerang kampung musuhnya, murid -murid sekarang lebih canggih lagi, dengan bermodalkan keyboard komputer dan ilmu nyetik sebelas jari lawan disana bisa darah tinggi, serangan jantung bahkan stroke. Efeknya hampir mirip dengan santet !

Dalam perang ini, ada yang memakai identitas samaran, kadang-kadang dua atau tiga. Ada yang memakai identitas asli. Ada yang ketika menulis tidak memakai celana (siapa yang bisa melarang?). Ada yang memakai celana. Ada yang menulis di rumahnya. Ada yang mencuri-curi fasilitas kantor. Ada yang menulis dengan jujur. Ada yang menulis karena dia tidak tahu harus berbuat apa lagi (isteri/suaminya menolak bersebadan dengannya; jadi dia uring-uringan). Ada mahasiswa. Ada gurubesar. Ada orang waras. Ada orang gila. Wuah, macam-macam!

Berdasarkan kenyataan-kenyataan seperti tersebut di atas, maka hal paling maksimal yang bisa peroleh dalam diskusi maya hanyalah: Membaca pesan yang baik yang bisa memperkaya wawasan. Itu saja. Adapun pesan yang tak memperkaya wawasan, ya di-"skip" atau di-"delete" saja. Atau, kalau ada sebuah pesan yang perlu dikoreksi atau diluruskan, ya marilah kita menuliskannya dengan baik.

Jangan coba-coba membayangkan apa profesi, almamater, orientasi seks, afiliasi politik seorang penulis di sebuah milis. Percuma. Dalam diskusi di dunia maya, hal ini juga kurang relevan dan bisa membuat sakit jiwa. Jangan pernah membayangkan teman diskusi anda sebagai seorang perempuan semampai, bertubuh "gitar spanyol" dan punya wajah aduhai, seperti Sarah Azhari, Sarah Fawcett, Sarah Fergusson, atau Sarah-Cornelia Agatha-Si Doel. Kalau ternyata teman diskusi anda adalah seorang lelaki bertubuh kecil dan punya janggut panjang beberapa lembar di dagu, wuah bisa buyar fantasi anda, dan sakit jiwa.

Adapun tentang hal "ledek-ledekan" almamater seperti yang sedang terjadi ini, ya saya juga ikut merasa prihatin. Tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi di milis ini adalah juga gambaran dari apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat gereja Advent. Konflik antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur; konflik antara kawanua dengan "halak kita"; Manado lawan Batak. Saban hari di gereja kita memang hanya ngomongin konflik ini melulu. Takutnya kita sudah tak punya waktu untuk mengurusin hal-hal yang berkaitan dengan evangelisasi dan jangkauan keluar. Hampir semua isyu atau kejadian selalu "dilarikan" atau "ditekuk" menjadi isyu etnik. Bantuan dari divisi dilarikan ke isyu etnik.Pendidikan dilarikan ke isyu etnik. Korupsi dilarikan ke isyu etnik. Pemilihan Pimpinan Uni dilarikan ke isyu etnik. Pengangkatan pendeta dilarikan ke isyu etnik. Tapi kalau kita bisa mengerti bahwa semua ini adalah bagian dari politisasi agama, maka sebenarnya kita tak perlu terlalu emosional untuk menanggapinya.

Mengamati soal debat saling ledek menghina di milis jadi ingat dua kelompok anak desa yang dipisahkan sebuah sungai. Kalau mereka cekcok musuhan, kedua belah pihak ambil posisi diluar jangkauan lemparan batu. Kemudian saling teriak memaki orang tua sampai nenek moyang. Lemparan batu yang jatuh keseberang diteriaki ...hoo nggak kena... Malah ada yang buka celana sambil menunggingkan pantatnya. Lawan diseberang tak kalah sewot, langsung teriak : ..emang lu kecakepan ya ... tahu pantat lu kayak muka gue... hoo...

Dunia cyber jelas lebih lebar dari sungai, tak terlihat tak terjangkau lemparan batu. Mari kita lebih memfokuskan diri kepada bobot pesan ketimbang siapa yang menyampaikan pesan. Jangan emosi, ambil manfaat buang mudarat.