Ads 468x60px

Sunday, January 16, 2011

Kacamata Bung Karno

Salah satu peninggalan Soekarno yang masih misteri, dan mungkin akan tetap misteri adalah "Kacamata hitam." Menurut rumor yang berkembang, kacamata yang bung Karno pakai adalah kacamata tembus pandangan yang dapat melihat orang yang didepannya telanjang. Inilah yang membuat setiap berpidato beliau tetap semangat, sebab dengan kacamata itu ia dapat melihat orang-orang di depannya seolah-olah tanpa busana. Tidak jelas bagaimana citra yang dilewatkan oleh lensa kacamata ini, apakah dapat membuat lekak-lekuk wanita yang aduhai terlihat jelas, atau membuat sipengguna dapat melihat hingga pada tulang belulang orang. Tetapi kalau yang terakhir ini yang terjadi, bukannya rangsangan syahwat yang didapat tetapi sebaliknya jadi terasa seperti ditengah-tengah kerangka-kerangka hidup.


Tujuan tulisan ini bukannya untuk membahas tentang ketelanjangan, bodi yang syur dan aduhai, yang membuat anda terangsang. Bukan... tetapi saya ingin mengajak anda untuk menggunakan jenis “kacamata bung karno” yang bukan hanya melihat citra superfisial tetapi lebih dari itu dapat melihat jauh lebih dalam.

***

Terbukti bahwa kemanusiaan kita menggiring kita hanya mampu untuk menyukai orang-orang yang memiliki persamaan dengan kita. Apakah persamaan dalam latar belakang, pendidikan, etnis, hobby, bahkan persamaan selera dan kesukaan. Semakin banyak persamaan kita dengan seseorang maka semakin tinggi tingkat kesukaan kita pada orang tersebut. Salah satu yang membuat kita seperti itu adalah program di otak kita. Otak kita sudah terprogram lewat pendidikan orang tua, guru, sekolah, dan lingkungan bahwa keadaa ideal, keadaan baik, orang yang tepat adalah sosok pribadi seperti yang kita miliki. Pribadi yang kita miliki adalah hasil pembentukan dari lingkungan, dan kemudian dari semua usaha trial and error maka kita memutuskan sikap terilaku tertentulah yang terbaik, dan inilah kemudian akan diadopsi. Ini menuntun kita bersikap bahwa bila ada orang lain yang berlaku tidak seperti kita maka sikap itu bukanlah perilaku yuang terbaik. Jadi dengan kata lain secara alami kita akan bersikap, “Kalau anda sama seperti saya maka saya akan mengasihi anda.”

Celakanya, kadang kita memandang seseorang dan dalam sepermilli detik kita sudah putuskan untuk menyenanginya atau tidak. Kita membuat keputusan bagaimana selanjutnya berintaksi dengan seseorang tanpa tahu sepenuhnya tentang orang itu. Seyogyanya, jangan segera menutup pikiran sehingga menutup kesempatan untuk mengenal orang lain. Jangan menghakimi orang lain atas pertimbangan yang superfisial, pertimbangan yang instant dan dangkal.

Selanjutnya, kita memperlakukan orang lain sesuai dengan bagimana kita memikirkan siapa dia. Bagimana kita men-judge orang lain berhubungan dengan bagaimana kita memperlakannya.

Seorang pemuda datang ke suatu gereja dengan memakai kaos oblong yang kumal dan celana jeans yang sudah dekil. Anggota-anggota merasa terganggu sebab mereka merasa bahwa si pemuda tadi tidak menghargai betapa pentingnya persiapan diri sebelum datang ke perbaktian. Anggota-anggota gereja kemudian menyampaikan keberatannya pada pendeta jemaat. Segera pendeta itu mendekati si pemuda tadi, dan dengan sopan pendeta katakan bahwa pemuda itu perlu menanyakan kepada Tuhan pakaian apa yang pantas untuk digunakan sebelum datang lagi ke gereja itu untuk berbakti. Pada pekan berikutnya pemuda itu muncul dengan menggunakan pakaian yang sama. Sang Pendeta segera mendatanginya dan berkata, “Saya sudah katakan bahwa anda perlu bertanya kepada Tuhan pakaian apa yang pantas anda pakai sebelum datang berbakti.” Kemudian pemuda itu menjawab, “Iya, saya sudah bertanya pada Tuhan, tetapi Tuhan katanya bahwa Ia juga tidak tahu sebab Ia tidak pernah hadir ke gereja ini.”

Berhentilah menghakimi orang lain atas menampilan mereka. Banyak orang yang pada penampilan luarnya seperti orang suci padahal di dalamnya seperti kotornya kuburan. Apa yang ada di dalam anda (dan diri seseorang) adalah lebih penting dari apa yang tampak diluar. Banyak orang yang berhati suci tetapi karena bertumbuh dalam latar belakang yang berbeda dengan anda maka penampilannya dan cara bicaranya berbeda dengan apa yang anda harapkan.

Kita kadang cepat menghakimi orang lain yang tidak sama seperti kita. Meskipun anda tidak sepenuhnya mengerti sesamamu jangan pernah menghakiminya. Kita mungkin tidak sependapat dengan oang lain tetapi itu tidak membuat kita berhenti untuk mengasihinya.

Terlalu banyak tembok-tembok yang dibangun dan sekat-sekat yang didirikan untuk memisahkan kita dengan orang lain. Banyak orang memandang rendah pada orang lain, sebab keyakinannya berbeda dengan dia. Kita harus memahami bahwa di surga tidak ada ruang terpisah untuk Islam, untuk Kristen, untuk Katolik, Untuk Adventist tetapi semuanya satu di bawah pohon Al-hayat.

Kita perlu memperbesar lingkaran cinta kita. Hilangkan kebiasaan untuk menjudge orang lain atas penampilan luarnya. Pakailah cara pandang yang dapat menembus citra superfisial, penampilan luar, tampilan sebatas kulit; yang dapat menembus hingga kepada hati.

Wednesday, January 12, 2011

Sejarah berdoa


Text underdevelopment

Saturday, January 08, 2011

Mengurus Anggota yang Bermasalah


'Umat manusia adalah harta milik Kristus, yang dibeli-Nya dengan harga tunai yang tak ternilai, terikat kepada-Nya oleh kasih yang Ia dan bapa-Nya telah nyatakan untuk mereka. Sebab itu betapa kita harus berhati-hati dalam tindakan kita terhadap satu sama lain! Manusia tidak boleh berprasangka jahat terhadap sesamanya. Anggota-anggota jemaat tidak berhak bertindak nenurut bisikan hati dan kemauan sendiri terhadap saudara yang bersalah. Mereka pun tidak patut menyatakan prasangkanya tentang anggota yang bersalah itu, karena dengan demikian mereka
menanamkan ragi kejahatan ke dalam pikiran orang-orang lain.

Thursday, December 23, 2010

Interaksi dengan Sejarah

"The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting." [Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.] The Book of Laughter and Forgetting, 1979 by Milan Kundera

"JASMERAH! Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!" Presiden Soekarno, pidato kenegararaan 17 Agustus 1966

Interaksi dengan sejarah tentunya bukan sekedar omong kosong belaka. Namun penuh dengan makna yang benar-benar dapat membangkitkan semangat, bila kita mengetahuinya. Sejarah, baik yang berupa kesuksesan maupun kegagalan, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi yang memotivasi. Ketika Soekarno mengumandangkan Jasmerah, dia ingin membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia melawan bentuk neokolonialisme waktu itu.

Ingatlah kejayaan Sriwijaya. Ingatlah kejayaan Majapahit. Ingatlah kejayaan Mataram. Bahwa Indonesia pernah menjadi bangsa yang dapat berdiri dengan gagah di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Sejarah, merupakan energi dasyhat yang tersembunyi dari suatu bangsa. Bila seseorang atau suatu bangsa tersebut mau dan mampu memahami dan belajar dari sejarah, maka sejarah mempunyai kekuatan yang dasyhat yang dapat gunakan untuk menjalani kehidupannya di masa sekarang dan akan datang. Tak hanya menjalani, bahkan mempunyai visi kedepan.

Bangsa Indonesia saat ini perlu diingatkan kembali tentang sejarah panjang di masa lampau. Namun seringnya yang terekam dalam memori bangsa kita hanyalah romanisasi sejarah dan cerita-cerita indah tentang kejayaan-kejayaan di masa lampau; lupa dengan cerita pahit, kegagalan dan kehancuran yang pernah diderita oleh generasi-generasi terdahulu sehinggga bangsa ini jarang sekali yang dapat mengambil pelajaran dari sejarah. Kita dapat melihat kenyataan hari ini, pimpinan negara dan politisi banyak yang fasih bercerita sejarah, namun nasib bangsa ini tak kunjung beranjak membaik. Sudah saatnya bangsa ini dibangkitkan dari insomnia sejarah.

Friday, December 17, 2010

Hukum Truk Sampah!

Author: Unknown

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya & mulai berteriak ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!” Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka: Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya. Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.