Ads 468x60px

Tuesday, July 04, 2006

Jusuf Kalla dan Urusan Syahwat

Saya kaget dengan pemberitaan The Jakarta Post 06/29 di forum pertemuan resmi dimana wartawan2 domestik maupun luar negeri berkumpul. Artikel dengan judul "VP moots using women in Arab tourism push" memberikan kesan bahwa Wakil President Jusuf Kalla mendukung dan bahkan mendorong perempuan-perempuan Indonesia untuk "dikawin kontrak" oleh lelaki Arab - supaya ada perbaikan keturunan. Apakah JK tidak tau kalo "kawin kontrak" ini cuma akal-akalan lelaki Arab hidung belang - yang kagak mau bayar mahal untuk ongkos syahwatnya!!


Monday, May 29, 2006

Gunung Merapi Meletus

Beberapa hari yang lalu terjadi gempa vulkanik di Jogjakarta. kasihan sekali mereka, setahu saya kebanyakan penduduk disekitar Merapi adalah petani. Terus di Sacramento Bee pada tanggal 28 May 2006, mengekspose berita ini di headline halaman pertama. Untunglah sudah banyak bantuan yang datang dari negara-negara tetangga dan sahabat. Tetapi pada kemana negara-negara Islam? Negara-negara Timur Tengah? Arab Saudi, dll? Tetapi mengapa mereka; negara-negara barat yang sekuler,kristen dan kafir; yang pertama tergopoh-gopoh ingin segera membantu musibah di Indonesia yang konon dekat dengan kebudayaan Arab. Mengapa negara-negara Arab yang kaya selalu lamban bahkan tidak membantu?
Ah, kali budaya kita orang Asia yang pada cuek kalau masalah kagak bersentuhan dengan diri sendiri, apalagi kalau masalah itu kagak punya potensi bermasalah dengan kampung tengah. Buktinya saya sendiri belum telp sanak famili di Indonesia menanyakan apakah mereka sehat walafiat. Tadi pagi istriku tunjukin koran dari rumah sakit tempat dia kerja. Katanya dia dibeliin temannya dari department lain karena adanya berita tentang Indonesia. "Apa keluarga mu selamat?", tanyanya ke istriku. "Tidak tau", "Apa sudah call mereka?", desaknya lagi, juga istriku hanya bisa geleng kepala. Duh si bule yang lahir dan dibesarkan di negeri super cuek dan sekuler ini masih sempat-sempatnya mikirin negeriku. Boro-boro aku dengan isriku.
Tapi tunggu dulu, mungkin saudara-saudara dari negara-negara Islam udah bantu kali, tapi mereka kagak mau diekspose besar-besaran seperti bantuan negara-negara barat. Maklumlah bagi kaum muslimin saling membantu sudah berjalan sendirinya dalam sendi kehidupan dan syariat, tanpa harus digembar-gemborkan. Sementara pihak barat memang getol menggembar gemborkan kebajikan mereka, yang sebenarnya adalah agenda tersembunyi. Ceunah !
Tapi kok saya punya ide yang berbeda. International community selalu memberikan bantuan kemanusiaan kepada korbannya, siapapun mereka. Mereka tidak bertanya dulu apa korban seagama, se-ethnis dan pertimbangan picik lainnya. Berlainan dg tuduhan 'kristenisasi' melalui pembagian Indomie yang sering dituduhkan. Seharusnya bantuan kemanusiaan diberikan secara tulus dan rela hati oleh semua orang yg berperikemanusiaan. Bantuan kemanusiaan adalah masalah nurani dalam tindakan humanis dalam bukan sekedar ritus religi.
Isriku punya teori seperti ini, "Umat Islam percaya akan nasib setiap orang sudah ditentukan sebelum dia lahir. Apakah dia hidup makmur, hidup sengasara, kena musibah atau tidak, apakah seseorang masuk sorga atau neraka. Menolong orang yang sudah ditakdirkan untuk kena musibah dianggap menentang Allah!". Ach, istriku sok tau. Tau apa dia dengan filosofi keagamaan.
"Ingat ketika Tsunami tiba?", tambah istriku, dia nggak mau kalah, "Mufti Saudi Arabia segera mengeluarkan pernyatan bahwa kesemuanya ini bukti bahwa Allah mengutuk kaum kafir! Soalnya pada hari pertama sesudah Tsunami yg dikabarkan terkena musibah adalah Sri Lanka dan Thailand yg jelas dianggap sebagai kafir - makanya pantaslah kalau kena tulah! Begitu juga ketika gempa bumi raksasa melanda kota Bam, Iran. Saudi Arabia yg begitu dekat tidak memberikan bantuan karena korbannya adalah pengikut ajaran Shi'ite!" Aku terkagum-kagum dengan istriku, yang kukira dia hanya tau perban dan jarum suntik, ternyata doi juga baca koran. Tapi kok ide doi berbau provokasi di tengah tengah bencana kieu, kumaha ieu teh?
Jangan khawatir istriku yang cantik, "Arab pasti membantu, mungkin bulan depan, mungkin juga dua bulan lagi, atau tahun depan. Saya akui dech "orang-orang kafir" memang selalu paling cepat dalam mengulurkan tangan. Entah apa yang membuat mereka begitu rasional? mungkinkah karena sebenarnya "kafir" maupun "non kafir" sama -sama di ciptakan Tuhan? sama - sama manusia sehingga solidaritas kemanusiaan lebih penting dibanding solidaritas keyakinan? Percaya deh, ketika umat manusia apapaun suku bangsa dan latar belakang keyakinannya saling bahu membahu untuk memberikan pertolongan, dunia ini menjadi lebih indah untuk ditempati."

Monday, May 01, 2006

Pendakian Gunung

Einstein yang mengatakan bahwa hidup bagi dia adalah seperti mendaki gunung yang kita tak tahu puncaknya. Hiburannya bukan dengan mencapai puncak gunung, hiburannya diperoleh ketika kita beristirahat sejenak dan melihat indahnya pemandangan dari ketinggian. Setelah itu, kita mendaki lagi.

Wednesday, November 02, 2005

Peran Sosial Gereja


Angka pengangguran semakin besar, apalagi setelah kenaikan BBM membuat industri di negeri ini semakin sakit parah. Ini sangat memprihatinkan tetapi yang lebih memprihatinkan lagi adalah sikap Gereja yang seakan-akan tidak tau apa yang menjadi masalah dalam jemaat. Gereja yang jelas-jelas mendapat income dari perpuluhan dan persembahan anggota jemaat tidak melakukan suatu usaha untuk membantu kesulitan anggota jemaat. Sedikitnya sikap itu telah ditunjukkan bapak-bapak pendeta anggota milis ini yang diam saat sdr Jeffry Liuw memposting masalah mencari kerja.

Saya tidak bermaksud menghasut atau menjelek-jelekkan para pekerja dalam Gereja. Saya cuma kecewa sebab untuk kalangan anggota jemaat sendiri Gereja tidak mampu perperan sebagai pembebas sosial, sebaliknya lebih memainkan peran yang menina-bobokan kesadaran masyarakat dalam kepasrahan .[Dengan anggapan pengikut-pengikut Yesus memang harus menderita di dunia ini]. Pada milis gereja lain yang saya ikuti, anggota-anggota jemaat Gereja lain juga kecewa dengan sikap gereja mereka yang seperti ini. Gereja sering hanya bergumul dengan masalah doktrin dan masalah organisasi akibatnya gereja tetap fundamentalisme tdk berani bergerak keluar mengambil resiko mengambil peran sosial dimana gereja berpartisipasi dalam kehidupan jemaat.

Tetangga saya adalah Pendeta Gereja Last Day Sints (Mormon). Untuk mengurangi pengangguran anggota jemaatnya mereka menciptakan pekerjaan-pekerjaan yang menyerap tenaga kerja, seperti bengkel, thrift store, panti kerajinan tangan, dll. Anggota-anggota jemaat, menurut dia, disarankan untuk melakukan bisnis dengan sesama anggota Gereja Mormon. Saya tidak tau persis, katanya anggota Gereja Advent "Pembaharuan" juga mengajarkan pijat refleksi pada anggota jemaatnya supaya bisa kerja, sehingga tidak harus bekerja pada Hai Sabat.

Gereja tidak seharusnya hanya datang dengan anjuran untuk bersabar dan menerima apa adanya realitas kemiskinan. Masalah ini bisa direduksi dengan menggalang kekuatan yang sistemik dari anggota jemaat. Para tokoh agama tidak boleh hanya menyarankan sabar, menerima dan menanti keajaiban dari Tuhan. Jika demikian, Karl Max memang benar "agama memang tidak lebih sebagai candu".

Wednesday, October 19, 2005

Ekstrimitas akibat Frustrasi Sosial

Dalam setiap agama terdapat celah-celah paradoks dan kontroversi yang bisa dimanfaatkan kaum ekstremis. Sehingga beragama umat manusia sebaiknya tidak mengusung paradoks dan kontroversi itu, sebaliknya mencari persamaan dan titik temu agama yang satu dengan agama yang lain, dan titik temu itu berada pada dimensi kemanusiaan. Ideologi yang mengandalkan massa mayoritas yang selalu mengklaim direstui atau mengatasnamakan "Allah" untuk menghukum orang dan kelompok lain mengakibatkan Indonesia tidak pernah mentas ke alam demokrasi "ideal".
Dapat dimengerti bahwa terjadinya penutupan rumah ibadah oleh sekelompok masyarakat adalah indikasi frustrasi sosial. Rakyat merasa bahwa pemerintah gagal untuk menegakkan hukum dengan melihat mandeknya saluran peradilan di negeri ini. Rakyat kemudian merasa berkewajiban untuk menegakkannya sendiri pemberantaan korupsi dan kegagalan pemerintah lainnya. Padahal, premanisme berjubah agama yang sekarang merajalela di Indonesia tidak akan membawa Indonesia ke masa depan yang gemilang, melainkan akan tetap terpuruk dalam keterbelakangan dan lingkaran setan, korupsi, kudeta, kolusi lagi, kudeta lagi.
Thariq bin Ziyad dari Turki pada pemerintahan Ottoman, panglima Islam pertama yang menaklukkan Eropa, misalnya, melarang keras tentaranya menghancurkan gereja dan kuil Yahudi di daerah taklukan. Itulah sebabnya, ketika mereka menaklukan Eropa, banyak warga Eropa yang simpati kepada tentara Islam. Hal itu dilakukan pasukan Tharik yang baragama muslim. Sisa-sisa kejayaan Islam di Eropa masih dapat di saksikan di Turki dan di Spanyol.
Beberapa penutupan rumah ibadah, apakah itu gereja atau masjid milik salah satu aliran agama Islam, menunjukkan kedangkalan tingkat pemahaman agama yang dianut yang bersangkutan dan cenderung indikasi kelemahan intelektual. (Kalau otakmu lemah, keraskan ototmu). Ekstrimitas sebetulnya menunjukkan kementahan jiwa dan intelektual seseorang sebab ekstrimitas tidak pernah memecahkan masalah. Berpikir ekstrim adalah cara berpikir satu arah dan mengabaikan pikiran-pikiran orang lain. Padahal untuk mencari solusi suatu masalah, kita perlu menampung pikiran-pikiran orang lain.