Ads 468x60px

Tuesday, August 02, 2011

Jangan berhenti bermimpi

Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka. Sayangnya banyak orang menggagalkan kesuksesannya sebelum berusaha dengan cara tidak berani bermimpi. Jadi, jangan berhenti bermimpi, karena orang seperti kita hanya bisa hidup sebab memperjuangkan mimpi.

Pelajaran dari 13 tahun yang silam

Tiga belas tahun yang lalu saya jatuh cinta. Saya sudah kenal dengan gadis ini sejak dia SMP tetapi kemudian kami berpisah dan saya tidak pernah memikirkannya lagi. Kemudian bertemu lagi setelah saya tamat dari college. Dia sudah bertumbuh menjadi wanita dewasa yang manis, tidak seperti waktu saya kenal dulu waktu dia masih SMP berdandan seenaknya. Suatu kali dia saya ajak bicara berdua sekedar chat (mmn dikemudian hari dia ngaku bahwa dia sudah siap 'ditembak' waktu itu). Tetapi saat itu saya tidak punya keberanian untuk mencoba mengatakan cintaku. Menyesal juga mengapa tidak mencoba waktu itu....

Saya gagal karena saya tidak mencoba , saya tidak memperoleh apa yang saya mau sebab tidak mau menerima resiko kegagalan. Tidak ada yang bisa lebih buruk daripada ketakutan pada hal buruk yang 'mungkin" akan terjadi lalu menyerah, dan kemudian mengharapkan ada kuasa adikodrati yang membuat semuanya akan lebih baik.

Siapapun bisa menyerah, itu hal yang termudah di dunia untuk dilakukan. Hidup ini tidak mudah bagi kita semua. Kita harus memiliki ketekunan selain kepercayaan dalam diri kita sendiri. Kita harus percaya bahwa kita dikaruniai suatu tujuan dan hal ini harus dicapai. Antara Anda dan setiap tujuan yang Anda ingin mencapai, ada serangkaian rintangan, dan semakin besar tujuan, semakin besar hambatan. Keputusan Anda untuk menjadi, memiliki dan melakukan sesuatu yang luar biasa memerlukan kesulitan dan tantangan yang luar biasa juga. Kadang perbedaan Anda dengan orang lain yang gagal adalah hanya kemampuan Anda untuk tinggal dengan lebih lama bertahan daripada orang lain.

Sunday, July 24, 2011

Book Review: Les Miserables

Les Miserables adalah sebuah novel yang di rilis tahun 1862 oleh Victor Hugo, seorang penulis Perancis. Novel ini berkisah tentang orang-orang yang tidak beruntung dalam kehidupan; orang-orang yang termarjinalkan; orang-orang yang bergulat dalam perangkap kemiskinan. Kisah dalam novel ini terbalut kemalangan, cinta, pembebasan dan pengampunan. Dimana jalan keluar dari kemalangan melalui pintu yang disebut kejujuran. Ironisnya sesuai dengan realita kehidupan, kejujuran lebih sering kalah dan terpinggirkan.

Tokoh utama, Jean Valjean adalah seorang laki-laki yang dipenjara karena mencuri sepotong roti untuk keluarganya yang kelaparan. Ia sendiri tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa pencurian yang dilakukan membuat dirinya terlibat konflik moral berkepanjangan.Selama 19 tahun dia dipenjara dan dalam masa narapidana itu ia kerja paksa. Kebrutalan di penjara membentuk dia menjadi seorang manusia tanpa roh dan tanpa jiwa. Seorang yang melakukan apapun demi untuk survive. Javert, sipir penjara selalu memperlakukan dia dengan tidak adil dan dalam sepanjang novel ini menjadi tokoh yang selalu mengkuntit Valjean kemana pun ia pergi.

Setelah dia menyelesaikan hukumannya dan keluar dari penjara, Valjean kesulitan mendapat tempat tinggal, karena di masa itu orang tidak mau berurusan dengan mantan napi. Dalam usahanya untuk berbaur kembali di antara masyarakat, dia diperlakukan semena-mena. Hanya secuil asa yang hampir pudar dari segudang ketidakpuasaan akan hidup yang dirasainya. Dalam kefrustrasiannya dia bertemu dengan Pastor Myriel. Valjean, si mantan narapidana, yang tidak diterima oleh masyarakat itu, akhirnya diterima bernaung di rumah Sang Pastor. Tidak hanya sekedar diterima, ia diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Manusia, bukan mantan narapidana.

Malam harinya, Valjean bangun dan mengambil peralatan makan perak milik sang Pastor, memukul Pastor ‘sang pahlawan yang menolongnya‘ hingga pingsan dan melarikan diri. Keesokan paginya, si Pastor terkejut karena tiga orang polisi mengetuk pintu rumahnya. Mereka menangkap Valjean ketika sedang menjual peralatan makan perak milik sang Pastor. Akan tetapi, reaksi dari Pastor ini mengejutkan mereka semua, terlebih-lebih Valjean. “Lho, kamu ini bagaimana sih? Untung kamu balik lagi ke sini. Kamu lupa ya, kalau tempat lilin ini juga aku berikan buat kamu? Ambillah, ini juga dari perak, dan kalau dijual harganya 200 francs!”. Valjean terkesima, dia tidak tahu harus bicara apa. Si pastor ini meyakinkan para polisi bahwa Valjean bukan pencuri, peralatan makan dan tempat lilin itu adalah pemberiannya. Setelah para polisi pergi, si Pastor memberikan tempat lilin dan peralatan makan itu kepada Valjean dengan pesan: “Jangan lupa, kamu sudah berjanji akan memakai uang ini untuk memulai hidup sebagai orang yang jujur. Aku sudah menebusmu dari ketakutan dan kebencian.” Valjean tidak lupa, kalimat itu teringang di terlinganya. Si Penjahat justru diselamatkan oleh orang yang ia aniaya.

Kasih dan pengampunan Pastor merubah Valjean secara dramatis. Benih perubahan itu pun mulai tumbuh. Walau tidak mudah, dan kadang terjatuh, ia tetap bertarung. Seolah petinju yang babak belur dihajar lawan, namun Valjean memutuskan tidak beringsut dari ring tanding. Seakan mendapatkan sebuah raga baru, ia berusaha keras keluar dari masa lalu yang suram. Bukan persoalan sepele. Bayangan masa lalu laksana kulit yang selalu menempel pada tubuhnya. Tidak mungkin lari. Sepanjang hidup ia pergumulan untuk “hidup benar tapi menderita, ataukah hidup sebaliknya”. Valjean berusaha hidup yang tulus, tapi masa lalunya selalu menjadi petaka baginya.

Dia pernah menolong seorang buruh pabrik yang miskin bernama Fantine. Fantine, wanita malang karena melahirkan Cosette di luar nikah dan akhirnya dipecat sebagai buruh pabrik. Dia kemudian terpaksa menjadi pelacur yang kerap disiksa dan mendapat penyakit. Begitu miskinnya, Fantine sampai harus menjual rambut dan giginya untuk membiayai hidupnya dan mengirim uang untuk anaknya. Akhirnya dia meninggal karena TBC.

Valjean akhirnya menjadi walikota di sebuah kota, meninggalkan identitas masa lalunya sebagai mantan narapidana, mengganti namanya menjadi Monsieur Madelaine. Kemalangan kemudian datang pada Valjean atau Monsieur Madelaine. Javert mantan sipir diangkat menjadi inspektur polisi baru. Dia mengenali walikota baru itu sebagai mantan narapidana. Adalah melanggar hukum bagi seorang mantan narapidana mengubah identitas dan menjadi pejabat pemerintah. Setelah ketahuan kedoknya, Valjean melarikan diri ke Paris setelah sebelumnya menebus Cosette, mengasuh dan membesarkan Cosette sebagai anaknya sendiri, seperti janjinya pada Fantine sebelum menghembuskan nafas penghabisan.

Javert terus memburu Jean Valjean, melacaknya, dan kehilangan lagi. Ini menjadi obsesinya seumur hidup. Pada saat Javert mendapatkan kesulitan yang mengancam nyawanya karena mengejar Valjean, Valjean malah menolongnya. Hal ini yang membuat Javert berhutang nyawa terhadap Valjean, dan Javert tidak menyukai hal ini. Nurani Javert berperang melawan dirinya sendiri.

Layaknya sebuah lari marathon, Victor Hugo tahu benar kapan harus berlari pelan, kapan harus sprint, kapan harus minum air, dan betapa luar biasanya pencapaian garis finish. Sangat intens. Sangat melelahkan. Tapi memang begitulah kehidupan.

Friday, July 22, 2011

Sang Narsissus

Dalam mitologi Yunani, Narcissus dikisahkan sebagai seorang dewa dengan paras yang sangat rupawan. Ketika Narcissus masih kecil, seorang peramal berkata kepada kedua orang tuanya bahwa anak mereka akan berumur panjang apabila tidak melihat dirinya sendiri.

Bukan hanya wanita, dewi dan bidadari yang terpesona pada parasnya, bahkan para pria dan dewa lainpun mengagumi ketampanannya, termasuk Echo, seorang dewi cantik jelita. Dewi cantik itu jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat Narcissius berjalan-jalan di hutan. Hanya saja Echo tidak bisa berbicara selain mengulang kata terakhir yg didengarnya. Karena malu dia hanya berani mengagumi Narcissius dari jauh ataupun hanya dari balik semak. Seakan terobsesi pada Narcissius tanpa sadar ia mengikuti kemanapun pemuda tampan itu pergi. Tetapi ternyata kecantikan peri echo tidak mampu melunakkan hati keras Narcissius. Binar-binar di mata Echo tidak bisa menundukkan hatinya. Dewi Nemmesis mendengar kesedihan Echo yang cintanya ditolak tersebut. Nemessis mengutuk Narcissus supaya jatuh cinta kepada bayangannya sendiri.

Kutukan tersebut menjadi kenyataan, suatu ketika narcissius berjalan di tengah hutan dan kehausan. Ia pun mencari dan menemukan telaga kecil pelepas dahaga. Ketika Narcissus melihat bayangan dirinya di sebuah kolam. Dia tak henti-hentinya mengagumi sosok yang terlihat dari pantulan air di kolam itu. Sama sekali tidak menyadari bahwa wajah itu adalah miliknya. Ia berusaha menyentuh pantulan wajah di air dan ia melihat bayangannya melakukan hal yang sama. Hari-hari berlalu, Narcissus masih saja tidak beranjak dari telaga, hingga tubuhnya semakin melemah hingga kematiannya.

**

Kecil-kecilan dalam diri kita ada bayi-bayi narsis. Untukku bayi narsisku disebut: menulis. Menulis adalah berbicara pada diri sendiri, sama seperti Narsissus berkaca pada bayangannya sendiri. Dalam tulisanku aku bisa melihat lebih jelas diriku yang sebenarnya.

Pada waktu remaja, aku menulis dalam buku catatan harian. Yang isinya kebanyakan tentang pujaan pada seseorang yang lagi aku jatuhi cinta. Pada waktu kuliah, kebanyakan aku menulis cacatan harian di computer karena semakin banyak hal-hal pribadi yang ditulis yang memalukan untuk dibaca orang lain, sehingga media computer plus password aku pikir menjadi kombinasi yang tepat. Kemudian sesudah kerja aku mulai menulis web contents dan mulai punya blog. Tema yang banyak aku tulis adalah caraku memandang dunia – pikiran-pikiranku sendiri sebagai seorang Narsissus.

Dengan hadirnya facebook, ingin juga memigrasi semua catatan-catatanku ke facebook-notes, tapi sayangnya applikasi ini tidak memberikan fasilitas yang leluasa untuk seorang penulis. Selain itu, FB cocok untuk Narcissus jenis lain; komunitas FB tampaknya lebih senang membaca tulisan diri sendiri dibandingkan tulisan orang lain, walaupun itu cuma tulisan haha-hihi di up date status atau sekedar komentar foto-foto diri sendiri.

Facebook memang lebih cocok untuk saling bertegur sapa sebagai media komunikasi social. Apa lagi sekarang koneksi ke internet bukan lagi dari komputer, tetapi telepon-telepon genggam buat orang yang sedang berada di perjalanan. Memang tak mungkin orang berpikir panjang sambil jalan-jalan. Kalau sekedar berpikir pendek dan praktis, tentu saja bisa.

Kerenanya kalau kamu menemukan tulisan ini, itu berarti aku pernah ada disini di kolam tempat bercermin seperti Narcissus bercermin dipermukaan telaga.

Monday, June 20, 2011

Di sisi Sun Creek

Pagi ini aku bangun lebih awal, bukan karena ada yang mau dikerjakan buru-buru pagi ini tetapi tidur malamku membuatku kecapaian. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, jam-jam malam yang berlalu rasanya lambat sekali berjalan. Berbaring di tempat tidur rasanya seperti di ruang penyiksaan saja. Malam tadi memang sengaja aku tidak makan obat tidur, agar aku tidak tergantung terus dengan obat tidur jahanam ini.

Pagi ini aku putuskan untuk membawa jalan anjing-anjing peliharaan di rumah tinggalku. Pit bull yang galaknya wih minta ampun. Seperti biasanya aku akan membawanya jalan sekeliling kompleks terus keluar ke peternakan setempat, ke hutan kecil di samping jalan toll dan ambil waktu sesaat untuk duduk di sungai kecil dekat jalan setapak. Yah sekitar 1.5 jam sudah selesai….

Biasanya aku singgah di pinggir sungai kecil di jalan setapak yang akan aku lintasi. Memilih salah satu batu untuk duduk sejenak menikmati kicau burung dan gemercik air di celah batu. Sering juga keisenganku seperti masa kecil muncul, menangkap ikan-ikan kecil . Kadang si ikan kecil bersembunyi di celah-celah ganggang hijau dan kemudian dengan malu-malu memunculkan diri lagi. Daun-daun teratai di sebelah sana menutupi permukaan air, daunnya yang masih muda mengangguk-angguk ditiup angin. Pohon oak yang besar memberikan naungan yang rindang pada ekosistem yang kecil ini. Capung berkeliaran menari di celah-celah dedaunan.

Aku menerawang melihat perjalanan hidupku. Memandang masa lalu dimana aku membuat keputusan-keputusan yang keliru. Bila sudah seperti ini kadang aku berpikir untuk berhenti hidup saja, toh juga aku telah berhenti dari spiritualitasku.

Di sini aku duduk sendiri, menutup mata menangkap semua frekuensi yang masuk ke gendang telingaku. Suara-suara yang terdengar kadang bagai orkestra yang indah. Harmoni alam yang tidak pernah aku dapatkan sementara duduk di depan laptopku. Gemercik air, desau angin di celah daun, kicau burung, tarian lebah, nyayian kodok, semua suara alam ini seolah mengikuti irama detak jantungku.

Ku buka mataku, pada lumut yang tidak pernah tumbuh lebih tinggi dari 1 inci, pohon oak yang menjulang tinggi, teratai yang dikodratkan hanya bisa hidup di dalam air. Tumbuh-tumbuhan ini memiliki hidup yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Lumut, pohon oak, teratai, rumput, semak, membuat tepi sungai ini menjadi lebih indah. Entah bagaimana kalau semuanya ingan seperti oak yang tumbuh menjulang tinggi.

Mmn, memang hidup mirip dengan tumbuhan di sekitarku ini. Ada orang yang bisa menjadi orang besar dan penting, sementara yang lain tidak seberuntung sesama yang lain. Tidak tau persis apakah ini memang takdir Tuhan atau karena pilihan-pilihan yang dilakukan yang bersangkutan dalam hidupnya, tetapi yang pasti perbedaan ini membuat hidup lebih indah dan lebih berarti.

Aku tiba pada komtemplasi untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain. Jangan pernah menyesali hidup saat ini. Ada hari-Hari yang baik memberikan kebahagiaan; Hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini. Tidak semua orang bisa seperti pohon oaks.