Ads 468x60px

Friday, April 15, 2011

Jawabku Padamu

Aku hanya mau katakan, "Jangan pernah menyentuh hidup seseorang jika itu hanya akan menghancurkannya."

Juga aku mau lanjut katakan, "Cinta tak harus memiliki: Itu BOHONG! Semua orang ingin memiliki, bahkan terkadang merasa harus memiliki. Dengan melihat orang yang dicintai bahagia,kita pun turut bahagia: itu juga BOHONG. Kita hanya pura-pura bahagia disaat hati kita sakit, bahkan itu mngajarkan kita untuk menjadi munafik. Lebih baik dicintai daripada mncintai: itu SALAH. Saat dicintai kita merasa bangga, namun saat mncintai kita dapat merasakan arti bahagia yang sesungguhnya."

Aku merelakan mu pergi bukan berarti karena aku menyerah tapi lebih kepada menyadari dan menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan.

Merelakan tidak berarti melupakan,tidak memikirkan,atau tidak mengacuhkan; juga bukan berarti membendung kenangan atau memikirkan hal2 sedih. Merelakan tidak berarti menang, dan tidak pula kalah; merelakan tidak sama dengan kehilangandan jelas bukan
kekalahan.

Merelakan hanya berarti bisa menyimpan kenangan, tapi juga bisa mengatasinya dan melanjutkan kehidupan, berpikiran terbuka dan yakin akan masa depan; menerima, belajar, menarik pengalaman,dan terus bertumbuh dan berkembang…

Merelakan berkaitan dengan segala yang kau miliki di masa lalu dan yang yang belum tentu kau miliki lagi di masa depan. Semua punya masa lalu tetapi masa depan lebih penting.

Katamu Padaku (bag 2)

Saya orang yang lurus-lurus aja sejak dulu. Aku juga nggak tau apa yang akan terjadi, mengapa jadi begini. Apa karena saya jauh dari keluarga atau memang ternyata benar dari dulu kamu sudah berkesan di hati saya. cuman kan..... tapi malas juga ngomongin jadinya.

Gimana ya saya bilang, ada benihnya saat itu, tetapi terus kamu pergi jauh. Kemudian orang lain menabir dan merawatnya, mungkin sekian persen masih ada dalam hati saya. Waktu akan menjawabnya.


Katamu Padaku

Kata mu pada ku, "keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama." Membangunkan ku dari tidur lamaku. Bertahun bidukku terkatung di laut, tanpa perduli ikatan pada bintang Kartika. Siuman aku jadinya oleh mu, tapi geliat kesadaran ini membuatku resah pada gelombang yang pasti akan menerpa biduk kecilku.

Kata mu pada ku, "aku tahu hati mu sama saya." Memang engkau sudah mengambilnya dulu entah kapan. Yang tinggal hanya jantung, usus, dan ginjalku. Kalau yang tinggal kini engkau ambil lagi, apalagi yang akan tersisa di diri ini. Apakah cukup dengan kulit pembalut tulang, dan rongga dada yang kosong melompong?

Tuntun ku pulang

Tuntun aku kembali rumah, ya bapa
Ketika hidup yang keras berakhir dan hari perpisahan telah datang;
Dekat pada mu aku akan berlindung,
Tuntunlah aku kembali ke rumah.

Tuntun aku kembali ke rumah
Tuntun dengan perlahan
Supaya aku tak jatuh dan tersesat di jalan,
Tuntunlah aku kembali ke rumah.

Tuntun aku kembali ke rumah
Dalam jam kehidupan tergelap,ya Bapa,
Ketika kesulitan hidup datang;

Menjagalah kaki saya dari mengembara,
Agar dari mu aku tak pergi jauh,
Tuntunlah aku lembut kembali ke rumah.

Sunday, April 03, 2011